You Are Welcome to Visiting My Blog!

Senin, 14 November 2011

Penilaian terhadap ke "Islaman" suatu negara



Menyadur artikel menarik yang ditulis oleh Komarudin Hidayat (Rektor UIN Jakarta) tentang Keislaman Indonesia di Kompas, 5 Nopember 2011.  Tulisan ini dibuat mengacu ke sebuah hasil penelitian yang dilakukan oleh dua peneliti dari George Washington University (Rehman dan Askari) yang menulis tentang "How Islamic are Islamic Countries"dan dimuat di Global Economy Journal.


Peneliti dari GWU tersebut meneliti 208 negara dengan tujuan:
"to examine what we believe to be important Islamic teachings that should shape the policies of a country that is labeled as “Islamic”; and, second, we propose a preliminary measure of the extent of adherence to religious teachings and doctrines in countries that we label as  Islamic i.e. to develop an index measuring the degree of  “Islamicity” of countries, based on Islamic teachings"

Kedua peneliti tsb mengukur 208 negara tersebut menurut Islamicity Index yang terdiri dari 4 kelompok indikator: 
(1) Economic 
(2) Legal and Governance 
(3) Human and Political) 
(4) International Relations.

Hasilnya diperlihatkan dalam sebuah tabel Islamicity Index Rank. Berdasarkan  cuplikan  data yang tercantum dalam tabel tsb a.l adalah:
1. Lima negara tertinggi (1 - 5) adalah: New Zealand, Luxembourg, Ireland, Iceland, Finland
2. Indonesia masuk ranking 140 (Timor Leste - 107)
3. Sejumlah negara Islam masuk dalam ranking sbb: Malaysia (38), Afganishtan (169), Pakistan (147), Bangladesh (132), Saudi Arabia (131). 

Komarudin Hiadyat juga menceritakan bahwa UIN pernah membawa sejumlah ustadz dan kyai ke Jepang selama 2 minggu dan sekembalinya mereka berpendapat bahwa kehidupan sosial di Jepang mencerminkan nilai-nilai Islam ketimbang yang mereka jumpai di Indonesia maupun Timur Tengah. Mereka menemukan bahwa masyarakat di Jepang terbiasa antre, menjaga kebersihan, kejujuran, suka menolong dan nilai-nilai Islam lain yang justru makin sulit ditemukan di Indonesia.  

Terbesit untuk membagikan  pengalaman serupa yang saya alami yang juga masih mirip mirip dengan cerita mengenai "ke-Islaman" suatu negara seperti diatas.

Pengalaman ini saya rasakan sendiri yaitu berawal ketika saya menginjakkan kaki pertama kali di negara formosa (Taiwan) untuk mengemban tugas belajar . Saya menetap di negara berpenduduk kurang lebih 23 juta jiwa (kira kira 10 % dari jumlah keseluruhan penduduk Indonesia)   sudah kurang lebih 2 tahunan. Pada awalnya perasaan takut dan was was muncul ketika sesampainya di sini membayangkan negara yang penuh dengan sesak dan padat melebihi ibu kota tercinta kita, Jakarta. Tapi pikiran itu hilang dengan sendirinya ketika dihdapkan dengan pemandangan yang masih sedikit  familiar dengan kampung halaman saya (Pontianak, Kalimantan Barat) mengingat sebagian besar dari masyarakatnya adalah berdarah Tionghoa.

 Kekaguman saya semakin bertambah karena hanya dengan kurun waktu beberapa bulan  negara ini bisa membuat saya merasa seperti raja yang sedang memerintah kerajaan sendiri krena segala sesuatu serba di sediakan serba di layani.  Perlakuan pemerintah terhadap rakyatnya begitu terasa adil dan merata tanpa pandang bulu (proporsional antara perintah untuk me nasionalisasi jiwa dengan apa yang masyarakat terima --> dengan kata lain pemerintah cinta dulu terhadap rakyatanya dan rakyatnya membalas lebih untuk mencintai negaranya kembali, yang hal ini tidak akan kita temui di negara tercinta kita, Indonesia). Perasaan  takjub ini semakin  bertambah  drastis ketika  negara  yang jelas jelas sebagian besar dari penduduknya adalah penganut dinamisme dan bahkan atheis ini sangat menghargai dan menghomati umat lain untuk melaksanakan ibadah. Sebagai contoh, pengalaman saya ketika sedang menjalani proses perkuliahan secara tiba tiba  pembimbing saya rela memotong waktu diskusi hanya karena saya meminta izin untuk melaksanakn ibadah (Solat), kebetulan saya adalah  muslim, seorang diri diantara anak lokal lainnya. Di sela sela makan siang bersama, tidak lupa pula mereka menanyakan saya apakah saya bisa makan makanan yang mengandung ba*i apa tidak (karena kebetulan beliau sedikit tahu tentang hal ini). Dengan sedikit berat hati saya menjelaskan kalo saya tidak bisa menyentuh apalagi memakannya dengan disertai perasaan tidak nyaman takut merasa tidak mengahrgai. Sama sekali sangat jarang ditemukan di negara tercinta kita ,.. Subhanallah. Sangat bertolak belakang dengan Indonesia yang penduduknya selalu gamapang tersulut dan bertikai antar sesama hanya karena disebabkan hal sepele ataupun propaganda yang tidak jelas pencetusnya. 

Dalam segi kebersihan lingkungan,  saya memberikan penghargaan yang sebesar besarnya kepada masyarakat lokal  karena mereka lebih bisa menghargai dan menjaga lingkungan sekitar.  Saya begitu heran ketika ingin membuang sampah,  malah mencari kesana kemari tempat sampah yang disediakan  tapi ternyata sangat susah sekali menemukannya, Alhasil saya baru bisa menemukan sampah setelah sekian lama mencari dan jaraknya pun lumayan cukup jauh . Subhanallah,..  dengan begitu saya berpikir kembali betapa hebatnya mereka ketika saya melihat hampir semua tempat publik sangat minim sekali dengan sampah yang berserakan (akhirnya bisa mematahkan asumsi yang selama ini saya pegang , yaitu "semakin banyak tempat sampah maka akan semakin bersih pula dari sampah" tapi disni  malah sebaliknya " semakin jarang tong sampah maka semakin sedikit sampahnya".  Begitulah perlakuan mereka  terhadap lingkungan yang terasa lebih islami  mereka lebih menjungjung pribahasa islami yaitu "Kebersihan adalah sebagian dari iman'  berbanding terbalik 180 derajat  bandingkan dengan negara tercinta yang masih  menganut semboyan "tempat sampah ada dimana saja" atau "buanglah sampah sembarang saja". 

Bila  berbicara masalah kesehatan penduduknya, dari segi akses, kualitas dan biaya , pelayanan kesehatan yang mereka berikan kepada masyarakat dan pelancong asing  sangatlah layak untuk di acungi jempol karena mengingat Taiwan juga  merupakan salah satu negara yang  belum resmi tercata  masuk kedalam organisasi (kalo saya salah mohon diralat)  PBB terlebih dalam  sistem kesehatan, hal ini  dikarenakan masih terkait masalah  per-politikan  dan sejarah dengan negara tetangganya, China. Mereka terus berusaha keras untuk bisa mengurus segala sesuatu sendiri terkait kesehatan masyarakat. 

Sebenarnya masih banyak lagi pengalaman pengalaman yang sangat menyenangkan yang bisa saya bagi yang  hampir jarang pula  saya dapatkan di negara tempat saya dibesarkan. Dengan tidak bermaksud memunculkan topik yang bernuansa religius di catatan inii, saya hanya ingin mengutarakan perasaan sedih yang mendalam mengenai perkembangan nilai moral dan tingkat kesadaran antar masyarakatnya dan begitu pula dengan pemerintah yang seakan tidak pernah mendengarkan keluhan dan aspirasi masyarakat sendiri. Pertanyaan yang muncul,  kenapa mereka bisa seperti sekarang ini? dan bisakah negara cinta kita mencapai titik sebagaimana  sperti negara kecil yang cuma 10 persen dari penduduk Indonesia... saya rasa kita semua tau jawabannya dan mungkin hanya bisa dismpan jauh di dalam hati karena memang belum bisa berbuat apa apa. Saya tetap mendoakan yang terbaik untuk negeri tercinta, Indonesia.
Sekali lagi saya mohon maaf yang sebesar besarnya bila ada kata kata yang tidak sengaja menyinggung pihak manapun.
   


--SAGP--

Sumber: Kompas